Senin, 14 Mei 2012

Abstrak Disertasi Pengelolaan Ekowisata Bahari


ABSTRAK

GEDE ARI YUDASMARA. Model Pengelolaan Ekowisata Bahari Di Kawasan Pulau Menjangan Bali Barat. Dibimbing oleh I NJOMAN S NUITJA, ACHMAD FAHRUDIN and SITI NURISJAH.

Indonesia dengan berbagai keanekaragaman sumber daya hayatinya merupakan modal pembangunan yang sangat potensial. Kekayaan alam ini, terdapat di seluruh wilayah Indonesia, baik yang ada di darat maupun di pesisir dan lautan. Potensi sumber daya alam yang melimpah ini, tentunya memerlukan penanganan yang serius agar aset tersebut dapat dipertahankan dan digunakan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Namun dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan azas manfaat sehingga produktifitasnya dapat terus dirasakan.
Salah satu bentuk pemanfaatan dari kekayaan sumber daya alam tersebut adalah pariwisata. Pariwisata merupakan kegiatan primadona dan telah menjadi bagian dari sektor andalan pembangunan nasional. Data pertumbuhan pariwisata dunia semenjak 1960an sebagaimana dipublikasikan oleh World Tourism Organization (WTO) setiap tahunnya mengalami peningkatan. Banyak negara di dunia berlomba untuk mengembangkan pariwisata sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kinerja pembangunan nasionalnya.
 Saat ini perkembangan pembangunan pariwisata diarahkan untuk mengacu pada aspek keberlanjutan. Artinya pengembangan yang dilakukan harus didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. Munculnya kriteria berkelanjutan tersebut telah mendorong pariwisata yang berbasis alam memunculkan jenis wisata baru yang disebut ekowisata. Ekowisata merupakan bentuk wisata yang relatif baru. Kegiatan ini dikelola dengan pendekatan konservasi, sehingga tidak hanya aspek ekonomi dan sosial masyarakat yang ditonjolkan tetapi juga aspek pendidikan dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungannya. Bentuk wisata ini lebih banyak dikembangkan pada daerah yang relatif masih alami.
Satu dari beberapa daerah di Indonesia yang menempatkan pariwisata sebagai sektor utama pembangunannya adalah Bali. Sebagai daerah yang sudah terkenal di dunia dengan pariwisatanya, terutama wisata bahari (sea, sand and sun), Bali masih menyimpan potensi yang dapat dikembangkan terutama di kawasan Bali bagian utara. Salah satunya adalah kawasan pulau Menjangan yang terletak di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Secara fisik pulau Menjangan tergolong pulau kecil yang unik dengan karakater terumbu karang yang khas. Keberadaan terumbu karang menjadikan kawasan pulau Menjangan sangat cocok dikembangkan sebagai daerah tujuan ekowisata.
Pengembangan suatu kawasan sebagai obyek ekowisata sudah tentu memerlukan kajian-kajian yang menyeluruh dari aspek ekologi, ekonomi, dan sosial agar keberlajutan kegiatan ini dapat terjamin. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis dan mendeskripsikan kondisi, tingkat kesesuaian dan daya dukung sumber daya dalam menunjang kegiatan ekowisata bahari di kawasan pulau Menjangan, 2) menganalisis dan mendeskripsikan kondisi ekonomi aktivitas wisata, preferensi wisatawan serta partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekowisata bahari saat ini di kawasan pulau Menjangan, 3) menganalisis tingkat optimal pengelolaan ekowisata bahari di kawasan pulau Menjangan, dan 4) merencanakan model pengelolaan ekowisata bahari di kawasan pulau Menjangan yang berkelanjutan dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial.
Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, wawancara dan pengumpulan data sekunder. Analisis data terdiri dari (1) analisis ekologi. Melalui analisis ini diperoleh gambaran kondisi dan potensi ekosistem yang ada serta tingkat kesesuaian dan daya dukung kawasan untuk ekowisata; (2) analisis ekonomi. Melalui analisis ini diperoleh gambaran kondisi ekonomi aktivitas wisata dalam pengelolaan; (3) analisis sosial. Hasil analisis diperoleh gambaran tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan wisata; dan (4) analisis dinamik model pengelolaan. Hasil analisis ini diperoleh gambaran model yang sesuai dan optimal dalam pengelolaan ekowisata bahari di kawasan pulau Menjangan.
Hasil survei pada 6 stasiun pengamatan menggunakan metode LIT (line intercept transec) menunjukkan persentase tutupan karang hidup di pulau Menjangan adalah sebesar 46.36% atau dalam kategori sedang dengan 50 jenis ikan karang didalamnya. Kerapatan vegetasi mangrove yang diperoleh rata-rata sebesar 11.11 individu/100 m2, sehingga indeks kesesuaian wisata diperoleh dalam kategori sangat sesuai dengan daya dukung pemanfaatan sebanyak 30 240 orang per tahun. Analisa daya tarik wisatawan yang berkunjung ke kawasan pulau Menjangan menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang menjadi daya tarik utama diikuti oleh ekosistem mangrove. Nilai SBE juga menunjukkan bahwa karakter seascape lebih tinggi nilainya dari karakter landscape. Untuk analisa penawaran dan permintaan memperoleh nilai surplus konsumen sebesar US$ 3195 per individu per tahun serta nilai ekonomi kawasan sebesar US$ 1 746 572. Nilai WTP wisatawan rata-rata sebesar US$ 11.37 dengan total nilai WTP dalam setahun sebesar Rp. 1 206 033 757. Tingkat partisipasi masyarakat dikawasan pulau Menjangan tergolong cukup tinggi, dimana dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat pendidikan, pemahaman tentang lingkungan dan pendapatan. Model pengelolaan yang optimal bagi kawasan pulau Menjangan adalah model yang memasukkan unsur kegiatan rehabilitasi didalam skenario pengelolaannya.

Kata kunci: Pulau Menjangan, Ekowisata Bahari, Model Pengelolaan Optimal

Jumat, 11 Mei 2012

Abstrak Disertasi Kasman eM.Ka


ABSTRAK
(Analisis Zona Pesisir Terdampak Berdasarkan Model Dispersi Thermal dari Air Buangan Sistem Air Pendingin PT. Badak NGL Di Perairan Bontang)

Simulasi buangan air pendingin PT. Badak NGL untuk memprediksi pola sebaran suhu telah dilakukan dengan menggunakan model hidrodinamika dan dispersi thermal 3D dengan mengaplikasikan model POM (Princeton Ocean Model) (Mellor 2003). Gaya pembangkit yang digunakan dalam model adalah pasang surut, debit buangan air pendingin dan debit sungai. Pemilihan langkah waktu (Dt)=0.5 detik, dengan 118 grid (barat-timur) dan 187 grid (utara-selatan), ukuran grid Δx=Δy=30 m. Nilai awal : u=v=ζ=0, T0 = 28 oC dan S0 = 32 ‰. Verifikasi elevasi dan suhu antara hasil model dengan hasil pengukuran menunjukkan kesesuaian yang baik dengan nilai korelasi 0.97 untuk verifikasi elevasi, korelasi 0.90 untuk verifikasi suhu permukaan pada saat bulan purnama serta korelasi 0.87 saat bulan perbani. Hasil simulasi menunjukkan perbedaan pola sebaran suhu permukaan paling ekstrim ditemukan pada saat purnama untuk kondisi cuplik pasang maksimum dan surut maksimum. Perbedaan terutama terlihat pada Stasiun 8 (Muara Kanal Pendingin) yakni 41 oC saat surut maksimum dan 35 oC saat pasang maksimum (ΔT=6 oC). Adapun perbedaan suhu antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup besar ditemukan di Stasiun C yakni sekitar 2.54 oC untuk skenario musim kemarau dan 2.32 oC untuk skenario musim hujan. Selanjutnya dampak kenaikan suhu terhadap fitoplankton dan terumbu karang dipelajari dengan menggunakan hasil model dispersi thermal, di mana waktu observasi lapangan untuk fitoplankton disesuaikan dengan waktu cuplik model. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif antara suhu dengan kelimpahan, jumlah spesies dan indeks keanekaragaman fitoplankton. Dampak kenaikan suhu terhadap fitoplankton terutama ditemukan pada perairan dengan suhu >37.91 oC, di mana pada suhu ini jumlah spesies, kelimpahan dan indeks keanekaragaman fitoplankton sangat kecil dibandingkan dengan fitoplankton pada suhu alami. Sementara untuk terumbu karang hasil simulasi dicuplik pada lokasi di mana ditemukan adanya terumbu karang. Hasil analisis menunjukkan bahwa kenaikan suhu sampai 35.3 oC akibat buangan air pendingin menyebabkan kematian total terumbu karang, hal ini ditemukan pada terumbu karang di Sekambing Muara. Sementara kenaikan suhu hingga 33.3 oC di depan Pulau Sieca menyebabkan kerusakan sedang hingga kematian terhadap terumbu karang.

Kata Kunci : model POM, buangan air pendingin dan debit sungai, sebaran suhu, fitoplankton, terumbu karang